Salah satu fitur yang tidak saya jumpai setelah beralih dari Wordpress ke Jekyll adalah pencarian. Cukup masuk akal karena Jekyll menghasilkan halaman HTML statis tanpa menggunakan fasilitas di sisi server seperti database. Oleh sebab itu, bila ingin memiliki fitur pencarian, saya perlu menggunakan search engine terpisah yang akan meng-index setiap post di blog ini. Biasanya saya akan men-install ElasticSearch yang men-ekspos fasilitas pencariannya dalam bentuk REST API ‘siap saji’ bagi klien. Sebagai latihan, kali ini saya akan menggunakan Algolia yang merupakan layanan hosted tanpa perlu instalasi. Salah satu nilai tambah Algolia adalah memiliki Search UI yang menyediakan widget siap pakai untuk ditempelkan ke website. Karena ini adalah situs pribadi yang sederhana, saya mendaftar pada plan gratis Algolia yang memiliki batas 10.000 records dan 100.000 operasi pencarian per bulan.

Langkah pertama yang perlu saya lakukan adalah menentukan bagaimana cara meng-upload data artikel di situs ini ke Algolia agar bisa di-index dan dicari. Beberapa situs dokumentasi populer seperti situs dokumentasi Twitter Bootstrap yang juga dihasilkan oleh Jekyll menggunakan DocSearch. Ini adalah cara yang paling gampang karena DocSearch akan mengunjungi website dan melakukan crawling untuk mengambil informasi di website guna di-index. Pemilik situs tidak perlu melakukan apa-apa. Sebagai alternatifnya, saya akan menggunakan plugin jekyll-algolia. Cara ini membutuhkan sebuah langkah ekstra dimana saya perlu memberikan perintah bundle exec jekyll algolia untuk meng-upload post Jekyll ke Algolia.

Saya mulai dengan menambahkan jekyll-algolia pada file Gemfile seperti berikut ini:

source 'https://rubygems.org'

group :jekyll_plugins do
	gem 'github-pages'
	gem 'jekyll-algolia'
end

Setelah itu, saya menambahkan baris berikut ini pada file konfigurasi Jekyll _config.yml:

...
algolia:
  application_id: ubah_dengan_application_id_sesuai_akun_kamu
  api_key: ubah_dengan_search_only_api_key_sesuai_akun_kamu
  index_name: jekyll
...

Nilai application_id dan api_key (search-only API key) yang dipakai dapat dilihat melalui menu API Keys di dashboard Algolia. Jangan lupa juga untuk mencatat nilai Admin API Key. Nilai Admin API Key bersifat sensitif karena semua orang yang mengetahuinya bisa menambahkan record baru ke index saya. Oleh sebab itu, saya tidak akan menyimpannya dalam kode program. Walaupun demikian, Admin API Key tetap dibutuhkan untuk meng-upload artikel yang dapat dilakukan melalui perintah berikut ini di terminal:

ALGOLIA_API_KEY='nilai_admin_api_key' bundle exec jekyll algolia

Setelah memberikan perintah di atas, bila saya membuka menu Indices di dashboard Algolia, saya akan menemukan sebuah index baru bernama jekyll yang berisi data artikel di situs ini, seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Isi Index Pada Dashboard Algolia

Sekarang, data sudah tersimpan di Algolia. Langkah berikutnya adalah menambahkan widget pencarian di HTML. Ada beberapa pilihan yang disedian oleh Algolia, yang siap jadi meliputi InstantSearch.js dan Autocomplete.js. InstantSearch.js adalah pilihan yang tepat untuk halaman pencarian dimana tampilan hasil pencarian diatur oleh widget yang tersedia termasuk juga pagination, filtering, refinement dan sebagainya (untuk informasi lebih lengkap, lihat daftar widget InstantSearch.js. Karena saya hanya menginginkan sebuah kotak pencarian dengan auto complete dimana men-klik hasil pencarian akan membuka artikel bersangkutan, maka saya akan menggunakan Autocomplete.js.

Saya segera menambahkan link ke CSS dan JavaScript Autocomplete.js ke dalam halaman HTML untuk situs ini. Informasi lebih lanjut mengenai lokasi CDN Autocomplete.js dapat dibaca di halaman Github Autocomplete.js. Selain itu, perubahan yang saya lakukan dapat dibaca di source code situs ini.

Untuk melakukan pencarian, saya akan meletakkan sebuah text field di pojok kanan atas navbar. HTML-nya cukup sederhana seperti berikut ini:

<nav class="navbar navbar-expand-lg navbar-dark bg-dark menu">
  <div class="container flex-column flex-sm-row align-items-start">
    ...
    <div id="search-input-container" class="flex-grow-0 align-self-stretch align-self-md-start">
      <input class="form-control mr-sm-2 ml-auto" type="search" id="search-input" placeholder="Cari" aria-label="Search">      
    </div>
  </div>
</nav>

Pada dasarnya, ini adalah sebuah navbar Bootstrap biasa. Akan tetapi, saya melakukan sedikit modifikasi agar text field pencarian memenuhi layar begitu user men-klik text field tersebut (terinspirasi oleh pencarian di Stackoverflow). Kumpulan CSS Flexbox dari Bootstrap 4.1 sangat membantu untuk mencapai pergeseran secara responsive tanpa JavaScript. Bila saya menyembunyikan daftar menu kategori dan menambahkan class flex-grow-1 (baru di Bootstrap 4.1), maka text field akan mengisi bagian yang kosong hingga penuh. Sebaliknya, setelah fokus keluar dari text field, saya cukup mengganti flex-grow-1 menjadi flex-grow-0. Sementara itu, class seperti align-self-stretch align-self-md-start menyebabkan text field memenuhi layar secara otomatis bila website dibuka di perangkat dengan layar kecil.

Berikutnya, saya menyiapkan scss untuk mengatur tampilan popup auto-complete. Saya hanya men-copy-paste dari dokumentasi dan melakukan perubahan seadanya, kemudian menyimpannya di file _algolia-autocomplete.scss yang isinya seperti berikut ini:

.aa-dropdown-menu {

  width: 100%;
  background-color: #fff;
  border: 1px solid #999;
  border-top: none;
  box-shadow: 0 1rem 3rem rgba(0,0,0,.175)!important;

  .aa-suggestion {
    cursor: pointer;
    padding: 5px 6px;
    border-bottom: 1px solid #ccc;

    .result-title {

    }

    .result-snippet {
      color: #666;
      font-size: small;
    }

    &.aa-cursor {
      background-color: #B2D7FF;
    }

    em {
      font-weight: bold;
      font-style: normal;
    }
  }

  .aa-empty {
    padding: 5px 6px;
  }

  .branding {
    color: #999;
    font-size: 10px;
  }
  
}

.algolia-autocomplete {
  width: 100%;
  .aa-hint {
    color: #999;
  }
}

#search-input-container {    
  transition: all 600ms cubic-bezier(.165, .84, .44, 1);
  right: auto;
}

Sebagai langkah terakhir, saya menambahkan JavaScript untuk melakukan pencarian:

var client = algoliasearch('{{ site.algolia.application_id }}', '{{ site.algolia.api_key }}');
var index = client.initIndex('{{ site.algolia.index_name }}');
$('#search-input').autocomplete({ 
  hint: false,
  minLength: 3,              
  templates: {
    empty: '<div>Artikel tidak ditemukan</div>',
    footer: '<div class="branding text-center">Powered by <img src="https://www.algolia.com/static_assets/images/press/downloads/algolia-logo-light.svg" height="15px"/></div>'
  }
}, [{
  source: $.fn.autocomplete.sources.hits(index, { hitsPerPage: 5}),
  displayKey: 'title',      
  templates: {
    suggestion: function(suggestion) {
      return '<div class="result-title">' + suggestion._highlightResult.title.value + '</div><div class="result-snippet">' + suggestion._snippetResult.content.value + '</div>';
    }
  },
  debounce: 500,
}]).on('autocomplete:selected', function(event, suggestion, dataset) {
  window.location.href = suggestion.url;      
});

Pada kode program di atas, saya membatasi pencarian agar dimulai setelah minimal 3 karakter (minLength) dan setidaknya setelah 500 ms sejak pencarian terakhir (debounce). Pada source pencarian, nilai templates.suggestion mengembalikan HTML yang mengandung judul artikel dan isi artikel yang mengandung kata kunci yang dicari. Bagian yang mengandung kata kunci yang dicari juga secara otomatis sudah ditandai dalam tag <em>. Autocomplete.js akan menghasil custom event autocomplete:selected bila hasil pencarian dipilih oleh pengguna. Pada kode program di atas, saya melakukan navigasi ke lokasi URL untuk artikel yang dipilih oleh pengguna.

Hasil akhirnya dapat dilihat pada blog ini. Text field pencarian tersebut berada di pojok kanan atas layar.